oleh

Destinasi Wisata Kotagede, Cikal Bakal Keraton Surakarta dan Yogyakarta

Metro26.com | Saat ini Solo dan Jogja memang tidak lepas dari keraton. Jika di Solo, keratonnya merupakan istana dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sementara di Jogja keraton adalah istana Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kedua keraton itu sekarang menjadi destinasi wisata andalan di Solo dan Jogja. Namun sebenarnya, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta dulunya merupakan satu kerajaan bernama Mataram.

Loading...

Kerajaan yang dulunya bagian dari kasultanan Pajang itu mulai berdiri pada tahun 1588 masehi dengan raja pertama yakni Danang Sutawijaya atau Panembahan Senopati. Keraton pertamanya ada di kawasan Kotagede, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Namun, sekarang peninggalan Istana Mataram Islam yang dulu pernah ada tidak seperti Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Keraton Kotagede bisa dibilang nyaris tak berbekas.

Sekarang Keraton Kotagede bahkan telah menjadi kawasan permukiman karena pusat kerajaan yang mengalami beberapa kali pemindahan. Ketika masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, pusat kerajaan dipindahkan ke daerah Kerto.

Keraton Kotagede tidak ditinggalkan begitu saja ketika pusat kerajaan dipindah ke Kerto karena menjadi tempat tinggal ibu suri. Istana ini diperkirakan mulai terbengkalai setelah masa pemerintahan Sultan Agung usai.

Mataram Islam mulai mengalami kemunduran usai Sultan Agung wafat. Oleh penerusnya, Amangkurat I, pusat kerajaan kembali dipindahkan dari Kerto ke Pleret.

Wujud dari situs ini adalah sebuah dinding yang sudah tidak lagi utuh. Bentuk dinding ini melengkung sehingga oleh masyarakat diibaratkan seperti bokong. Dulunya dinding ini merupakan kesatuan Benteng Cepuri Keraton Kotagede.

Dahulu terdapat dua lapis benteng yang mengelilingi suatu keraton. Bagian dalam dinamakan Benteng Cepuri, sementara bagian luar dinamakan Benteng Baluwarti. Kini hanya ada beberapa bagian dinding saja yang tersisa.

Situs Bokong Semar ini telah menjadi cagar budaya dan sudah diperbaiki agar tidak semakin hancur. Tujuannya adalah sebagai pengingat akan masa awal Mataram Islam.

Ketiga peninggalan tersebut kini berada di sebuah bangunan yang berada di tengah jalan. Untuk bisa masuk ke dalam bangunan itu, memerlukan izin dan pendampingan dari juru kuncinya.

Menurut juru kunci, Batu Gilang dulunya adalah singgasana Panembahan Senopati. Terdapat semacam lekukan di salah satu sisi Batu Gilang ini. Konon itu adalah bekas dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir oleh Panembahan Senopati karena dianggap membangkang.

Sementara itu di dekat pintu bangunan, terdapat bola batu besar yang merupakan Batu Gatheng. Dulunya batu ini adalah mainan putra Panembahan Senopati, Raden Rangga.

Sementara itu ada pula batu berbentuk gentong yang bernama Batu Gentong. Batu ini dulu digunakan sebagai tempat menampung air wudhu dua penasihat Panembahan Senopati, yakni Ki Ageng Giring dan Ki Juru Mertani.

Peninggalan Benteng Cepuri Keraton Kotagede selain Situs Bokong Semar masih bisa ditemukan. Kali ini terdapat jebolan pada bagian temboknya.

Konon dahulu Raden Rangga diempaskan oleh ayahnya, Panembahan Senopati hingga menjebol dinding benteng. Hal itu dilakukan Panembahan Seopati sebagai pembelajaran bagi Raden Rangga yang sombong.

Masjid ini didirikan pada tahun 1587 atas perintah Danang Sutawijaya sebagai bagian konsep tata kota Catur Gatra Tunggal. Konsep itu meliputi bangunan Keraton, Alun-alun, Masjid dan Pasar.

Menurtut konsep Catur Gatra Tunggal, istana berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pasar sebagai pusat ekonomi. Sementara masjid berfungsi sebagai pusat keagamaan dan alun-alun adalah tempat bertemunya raja dan rakyatnya.

Di samping Masjid Gedhe Mataram, terdapat kompleks permakaman. Di sini bersemayam Panembahan Senopati dan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, serta Raja Kedua Mataram Islam, Panembahan Hanyakrawati.

Selain itu, ada pula makam Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir dan Sri Sultan Hamengkubuwana II yang tidak dimakamkan di Kompleks Makam Raja Imogiri. Makam ini dibuka untuk peziarah pada Senin, Kamis, dan Minggu pukul 10.00 – 13.00 WIB.

Sementara untuk Hari Jumat, makam ini buka pukul 13.00 – 16.00 WIB. Mereka yang ingin berziarah harus mengenakan pakaian adat dan tidak boleh mengambil foto di dalam kompleks makam.

Sendang Seliran adalah pemandian yang berada di selatan Masjid Gedhe Mataram. Letaknya juga bersebelahan dengan Makam Kotagede. Pemandian ini dulunya dibangun oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati.

Sendang Seliran ini terdiri dari dua bagian, yakni Sendang Putri untuk wanita dan Sendang Kakung untuk laki-laki. Sekarang Sendang Seliran tidak lagi difungsikan sebagai pemandian, tetapi dipercaya airnya bisa membuat wajah awet muda.

Itulah enam peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang ada di Kotagede. Mataram Islam memang mengalami beberapa kali pemindahan usai dari Pleret, hingga akhirnya terbagi menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Pada masa Amangkurat II, pusat kerajaan dipindah ke Kartasura yang sekarang berada di Sukoharjo, Jawa Tengah usai pemberontakan Trunojoyo. Kerajaan kembali berpindah pada masa Pakubuwana II karena pemberontakan Raden Mas Garendi.

Pemindahan terakhir itu dilakukan ke tempat di mana sekarang Keraton Surakarta Hadiningrat berdiri ,Kota Solo. Selanjutnya Mataram terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta melalui perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada 13 Februari 1755.(K)

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.